Senin, 02 November 2020

Do'a

"Ketahuilah, ketika lisanmu digerakkan untuk meminta (berdoa), berarti Dia akan memberimu," demikian Ibnu Atha’ilah mengatakan.

Maka, bergembiralah saudaraku, apabila lidah kita tidak lagi kelu dan malu untuk berdoa. Percayalah, tidak setiap orang mudah meminta kepada-Nya, karena mereka terlalu mudah mengeluh kepada selain-Nya. 

Berdoa berarti mendekati aliran rahmat dan karunia-Nya. Maka, berdoalah di mana pun kita berada. Sebab, setiap doa akan mendekatkan si penerima dengan Zat yang Maha pemberi.


. قدر الله وما شاء فعل.

Ya Allah..
Rahmati aku mata yg melihat sisi terbaik seseorang.
Hati yg memaafkan kesalahan.
Fikiran yg dapat melupakan hal buruk.
Dan jiwa yg tidak kehilangan iman..

قدر الله وما شاء فعل.
Takdir Allah, apa yang Dia inginkan, maka Dia lakukan 

Jagakan Hatiku Ya Allah


Hati tidak pernah berulah..

Ia akan merespon dengan kondisi yang ada. Sampai akhirnya logika  menyadari dan mengoreksinya

"apakah ini baik untukku?"..

Bahasa hati, bisa jadi adalah jawaban atas kegelisahan

Hamdalah ketika terasa baik dan melegakan
Istighfar pada sedih dan buruk yang dirasakan

Jadikan hidup diantara Syukur dan Istighfar,
Karena Allah sebaik-baik sandaran

---
“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa.”
(Umar bin Khattab ra.)

Kamis, 29 Oktober 2020

Ketika Aku Memilihmu

Ketika aku memilihmu...
Bukan karena kau adalah orang yang paling lama mengenalku. Bukan orang yang telah lama disampingku, atau teman bermainku selama ini. 

Ketika aku memilihmu.. 
Aku berjanji..ini bukan hanya soal cinta, tapi tentang penerimaan ku akan takdirNya.
Karena bersamamulah inginku sempurnakan ibadahku.

Aku bukanlah perempuan yang serba bisa, bukan perempuan yang selalu pengertian,
Aku bahkan pencemburu, kadang sering kesal dengan sikapmu.

Aku bukanlah perempuan terbaik, aku bukan perempuan yang shalehah, aku bukan seorang yang selalu penurut, aku bukan pengendali emosi yang baik, aku bukan perempuan yang kuat, mandiri, apalagi cantik.

Aku bukanlah perempuan yang ahli ibadah yang selalu bisa menjaga shalat di awal waktu, aku bukanlah penghafal Qur’an yang akan senantiasa memiliki hati yang mulia.

Aku bukanlah perempuan hebat, aku bukan perempuan yang lembut, aku tak ingin kau duakan, aku juga bukan koki yang hebat yang akan selalu bisa meramu semua resep kesukaanmu. 
Aku perempuan yang punya banyak kekurangan,

Aku akan belajar menghormatimu, memuliakanmu, memaafkan kesalahanmu, aku perempuan yang menunggu penjelasan jika harus menunggumu pulang lebih lama, aku masih sering menangis, aku masih suka mengeluh, aku masih berharap perhatian mu, Aku masih menunggu. 
Menunggu keputusanmu. 

Ketika aku memilihmu..
Aku bahkan belum tau bagaimana dirimu. Karena keyakinanku.. aku memilihmu. 
Berharap engkaulah yang akan berjuang bersamaku, engkaulah yang bersedia menerima segala kekuranganku.

Ketika aku memilihmu..
Aku ingin kau bersedia mendengar seluruh ceritaku. Bahkan untuk cerita yang tidak penting sekalipun, aku ingin kau bersedia aku repotkan, aku ingin kau bersedia membagi waktu pribadimu untukku, aku ingin kau bersedia menanyakan keadaanku disaat sibukmu, aku ingin kau bersedia, selalu menyebutku di dalam doa-doa kebaikanmu di dalam shalatmu, aku ingin kau yang selalu percaya aku, memahami, mengerti dan bersedia bercerita, membagi hidupmu denganku. 

Ketika aku memilihmu..
Aku ingin kau tau, kalau kau berarti dan berharga bagiku.

Aku ingin mendengar cerita-ceritamu, aku akan menjadi pendengar yang baik, aku bersedia membagi waktuku, menyingkirkan lelahku, berjalan beriringan denganmu. 
Memulai semuanya.. 
Aku tidak menuntut untuk kau sediakan kemewahan, romantisme, semua yang serba ada, tapi aku hanya ingin..kau selalu bersamaku. 
Kita berjuang bersama. 
Aku akan menemani perjuanganmu. 

Jangan janjikan bahwa kau akan membahagiakanku. Karena bagiku, bersamamu aku akan selalu bahagia.

Ketika aku memilihmu..
Aku tau, kita bukanlah pasangan yang tidak akan pernah saling marah, tidak akan pernah saling bertengkar, kita bahkan akan menjadi tidak sabaran. 
Tapi jika kita marah, bertengkar, ingatlah..kalau kita adalah yang saling sayang dan tak inginkan adanya kesalahfahaman  apalagi kemarahan 

Janganlah pernah berniat pergi atau membagi cintamu dengan perempuan selainku.
karena aku tak kan pernah relakan itu. 

Ketika aku memilihmu
Ku yakin kau tak biarkan aku kehilangan hidupku.
Rapuhku akan menjadikan ratusan tahun masa depanku menjadi pilu

Jika kau tidak suka dengan sikapku, ajarkan aku. 
Jika aku salah.. tegur dan nasehati aku, 
jangan kau tinggalkan aku dalam kebingungan. 
 
Ketika aku memilihmu..
Tak kusisakan ruang untuk berangan pada pribadi selainmu
Kau..alasanku untuk selalu bisa melengkungkan senyum 
Menghidupkan hidupku
Takkan ada yang mampu menjadi pembandingmu

Ketika aku memilihmu..
Aku tau, kita bukanlah pasangan yang sempurna, kau dengan kekuranganmu, dan aku juga dengan kekuranganku. 
Tapi jadilah kita bersama untuk melengkapi dan menyempurnakan ibadah kita.
Berjanjilah padaNya bukan hanya padaku.

Ketika Masa Menunggu..

Karena aku akan jadi tempatmu pulang. 
Sejauh apapun kau melangkah,
Ingatlah hati yang menunggumu
Hati tempatmu pulang..
Hati yang karenaNya telah memilihmu..
Aku


#
Untukmu imamku
💕

Minggu, 06 Maret 2016

Indahnya Rantau Hempang: MANUSIA SERIBU WAJAH

Indahnya Rantau Hempang: MANUSIA SERIBU WAJAH: (Kisah Orang-orang  Dulu dan  Sekarang di Kutai) Kalimantan, disebut juga Borneo. Dulu terkenal dengan sebutan Zamrud Katulistiwa. Kare...

Senin, 23 September 2013

Sri Astuti Blog: Cerita Rakyat Asal Kalimantan Timur --Diceritakan ...

Sri Astuti Blog: Cerita Rakyat Asal Kalimantan Timur --Diceritakan ...: Asal Usul Terjadinya Danau Lipan             Danau Lipan adalah nama sebuah danau di Muara Kaman. Muara Kaman merupakan kecamatan yan...

Cerita Rakyat Asal Kalimantan Timur --Diceritakan kembali oleh : Sri Astuti, S. Pd



Asal Usul Terjadinya Danau Lipan
            Danau Lipan adalah nama sebuah danau di Muara Kaman. Muara Kaman merupakan kecamatan yang terletak di Hulu Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Propinsi Kalimantan Timur.
            Bandar Muara Kaman, begitulah dahulu sebutan salah satu kecamatan dari Kabupaten Kutai Kartanegara ini. Dimana pada masa kejayaan Maharaja Nala Indra Dewa, Bandar Muara Kaman ini merupakan tempat bertemunya para pedagang dari seluruh nusantara termasuk para pedagang dari Cina.
            Para pedagang dari nusantara yang datang ke Bandar Muara Kaman ini membawa setiap hasil bumi dan hutan, yang kemudian oleh pedagang-pedagang dari Cina pada saat itu dibeli dan dibayar dengan kain sutera halus, barang-barang keramik dari porselen, tajau berukiran naga, dan lain sebagainya.
            Aji Bidara Putih adalah seorang Puteri dari Maharaja Nala Indra Dewa yang cantik jelita. Diberi nama Puteri Aji Bidara Putih karena selain cantik, Sang Puteri juga memiliki kulit yang putih bersih. Dan karena putih bersihnya kulit Sang Puteri, seakan-akan jika Sang Puteri memakan sirih dan air sepahnya tertelan, maka nampaklah air sepah sirih yang berwarna merah tersebut.
            Kecantikan Puteri Aji Bidara Putih tersebar keseluruh negeri, tak terkecuali ke Negeri Cina. Pedagang-pedagang dari Cina inilah yang membawa kabar kepada Raja mereka di Negeri Cina, selain memberi kabar tentang kekayaan alam yang tersimpan dalam kawasan Martadipura, para pedagang ini juga memberitahukan perihal keberadaan Puteri Aji Bidara Putih yang merupakan Puteri dari Maharaja Nahla Indra Dewa yang kecantikannya tidak ada bandingannya dengan Puteri-Puteri yang ada di Daratan Cina.
Mendengar kabar mengenai kecantikan Puteri Aji Bidara Putih ini, maka muncullah keinginan salah satu Pangeran Cina ini untuk datang ke Muara Kaman dengan maksud melihat sendiri kebenaran kabar tentang kecantikan Sang Puteri. Maka berlayarlah Sang Pangeran Cina ini  ke Muara Kaman dengan membawa perbekalan dan barang-barang perhiasan dari emas yang nantinya akan digunakan untuk meminang Sang Puteri jika memang kabar yang didengar tentang kecantikkan Sang Puteri adalah benar.
            Sekian lama berlayar mengarungi lautan, maka sampailah iringan kapal Pangeran Cina itu. Dan kedatangan Pangeran Cina itu pun disambut baik oleh Maharaja Nala Indra Dewa dan seluruh warga Muara Kaman.
            Tibalah pada waktu yang ditentukan, setelah mengetahui sendiri tentang  keberadaan seorang puteri cantik bernama Aji Bidara Putih, maka bertemulah Sang Pangeran dari Negeri Cina ini dengan Maharaja Nala Indra Dewa dan mengutarakan maksud kedatangannya yang jauh-jauh dari Negeri Cina ke Muara Kaman, yaitu ingin mempersunting Sang Puteri.
            Pangeran Cina ini adalah seorang yang gagah, kulitnya kuning langsat dan bermata sipit, yang ketika melihat Pangeran Cina inipun Sang Puteri berdebar-debar hatinya dan berharap ayahnya yaitu Maharaja Nala Indra Dewa menerima pinangan sang Pangeran.
            Setelah dilakukan perundingan, maka lamaran Sang Pangeran pun diterima baik oleh ayah Sang Puteri . Kegembiraan hati Pangeran Cina ini turut dirasakan pula oleh seluruh keluarga dan para pengawal kerajaan yang ikut berlayar ke Muara Kaman. Suara meriam ditembakkan sebagai pertanda ungkapan kegembiraan hati Sang Pangeran, seakan tak sabar menunggu pesta perkawinan dilangsungkan.
            Perbekalan perhiasan dari emas dihadiahkan oleh Pangeran Cina  kepada Sang Puteri sebagai tanda ikatan pertunangan. Dan setelah acara penyerahan hadiah atau lebih dikenal dengan sebutan “sorong tanda’ itu dilaksanakan, selanjutnya diadakan acara jamuan makan.
            Dalam jamuan makan, menurut adat dan kebiasaan yang dilakukan dilingkungan kerajaan Maharaja Nahla Indra Jaya  adalah dengan menyuapkan makanan menggunakan tangan, namun hal itu tidaklah seperti yang dilakukan oleh Sang Pangeran dari Cina ini dan rombongannya yang makan dengan cara membawa mangkok berisi makanan langsung pada mulut. Atau dalam istilah bahasa Kutai lebih dikenal dengan sebutan “menyosop”.
            Melihat cara makan Sang Pangeran Cina beserta rombongan, Sang Puteri dan Maharaja Nahla Indra Jaya terkejut. Cara dan kebiasaan makan yang sangat menjijikkan laksana makannya seekor babi atau anjing. Dan Sang Puteri pun segera bergegas meninggalkan tempat jamuan makan.
            Bergegasnya Sang Puteri meninggalkan tempat jamuan makan menjadi pertanda bahwa Sang Puteri membatalkan pertunangan mereka, karena Sang Puteri sangat tidak suka bahkan jijik terhadap kebiasaan dan cara makan Sang Pangeran dari Negeri Cina ini. Keadaan ini tentulah membuat Sang Pangeran Cina menjadi tersinggung dan merasa terhina.
            Tak lama kemudian, Pangeran Cina memerintahkan para rombongannya untuk segera meninggalkan tempat jamuan makan tersebut dan kembali ke kapal mereka yang berlabuh di perairan Muara Kaman.
            Menyadari amarah dari Pangeran Cina, Maharaja Nahla Indra Jaya pun segera memerintahkan kepada para prajurit untuk bersiap siaga terhadap serangan dari Pangeran Cina beserta rombongan. Dan tak lama kemudian, terdengarlah suara letusan senapan dan meriam yang ditujukan ke daratan Muara Kaman. Dan suara itu berasal dari kapal-kapal Pangeran Cina dan rombongannya yang dilengkapi dengan perlengkapan perang seperti meriam dan senapan.
            Pasukan Martadipura pun membalas tembakan. Dan terjadilah saling tembak menembak dengan hebatnya. Namun, karena pasukan Pangeran dari Cina ini lebih kuat dari pasukan Martadipura, maka pasukan Martadipura pun mundur ke arah danau di belakang Muara Kaman.
            Khawatir akan kalah oleh pasukan Sang Pangeran dari Cina, maka paniklah Sang Puteri.  Karena Puteri Aji Bidara Putih menyaksikan pertempuran yang kekuatannya tidak seimbang tersebut. Oleh karena itu, segeralah Sang Puteri memakan sirih seraya berucap “kalau benar aku ini adalah titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang memusnahkan Pangeran Cina beserta bala tentaranya”.
            Setelah Puteri Aji Bidara Putih berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya. Dengan seketika sepah sirih Sang Puteri pun berubah menjadi ribuan ekor lipan yang siap menyerang pasukan Sang Pangeran Cina dan bala tentaranya.   
            Seiring dengan terusnya pasukan Pangeran dari Cina itu menyerang Kerajaan Martadipura, tiba-tiba Sang Pangeran dan bala tentaranya tersebut dikejutkan dengan kemunculan ribuan ekor lipan yang menaikki kapal-kapal mereka.
 Lipan-Lipan tersebut menggigit dan menyuntikkan bisanya ke setiap pasukan bala tentara dari Cina. Satu persatu pasukan dari Cina ini tewas, dan kapal-kapal merekapun tenggelam, bahkan Sang pangeran pun tak luput dari serangan ribuan ekor lipan tersebut dan kemudian pun tewas.
Sejak peristiwa itu hingga sekarang, danau tersebut lebih dikenal dengan sebutan Danau Lipan.

== TAMAT ==
           
                       

Jika nanti aku tiada

Jika suatu saat nanti aku telah tiada, Entah kapanpun itu ! Ku harap hidupku sudah dalam keadaan lebih baik. Aku tak mau meningg...